Belajar Moving Average (Bagian 1) – Derajat Kemiringan MA

Oke, hari ini kita coba belajar lebih dalam mengenai Moving Average. Bagi yang belum tahu cara penggunaan MA, silahkan kunjungi posting saya sebelumnya mengenai Dasar Indikator MA dan Cara Penggunaan MA di Forex. Salah satu fungsi dari MA adalah tentu saja untuk mengetahui tren. Seperti tulisan saya sebelumnya, salah satu cara paling mudah menentukan tren yang terjadi adalah dengan melihat posisi harga terhadap garis MA. Bila harga berada di atas MA maka tren = Tren sedang Naik. sedangkan bila di bawah MA = Tren sedang Turun. Nah… Pada prakteknya… Apa segampang itu? Bila anda tahu caranya, maka hal ini tidaklah sulit. Tapi bila anda tidak tahu caranya. Penggunaan MA juga tidak akan banyak membantu hasil trading anda.

Coba kita praktekkan pada EUR/USD di timeframe H1. Saya mengambil data sekitar selama seminggu terakhir (Tanggal 6 September 2013 – 13 September 2013) dan menggunakan EMA 34 pada chart.


eur-usd-ma

Jika kita mengacu pada cara membaca tren, setiap harga bergerak di atas garis MA berarti TREND sedang NAIK. Betul? Nah… Ini adalah dasar yang sangat mudah. Tapi perlu anda ketahui, bahwa market tidak selalu bergerak trending, namun juga bisa mengalami masa kosolidasi (netral). Maka dari itu kita perlu lebih cerdas dalam menggunakan MA. Agar anda lebih mengerti, coba kita lihat sekali lagi dari chart di atas. Pada poin no 1, kita tahu bahwa harga dari bawah menembus garis MA dan ini menandakan bahwa trend MUNGKIN akan BERUBAH. Mengapa saya sebutkan MUNGKIN. Perlu anda ketahui, bahwa di dalam dunia Forex tidak ada sesuatu yang pasti. Semua adalah mengenai probabilitas. Dan Forex Trader yang hebat biasanya hanya masuk posisi bila probabilitasnya tinggi untuk profit. Okay… Sekarang kita kembali ke laptop.

Dalam membaca MA, saya pribadi selalu melihat derajat kemiringan MA dalam menentukan market sedang trending atau tidak. Pedoman saya adalah sebagai berikut :

derajat-kemiringan-01

 

derajat-kemiringan-02

Bila derajat kemiringan tidak seperti yang saya jelaskan di atas, maka ada kemungkin besar market sedang cenderung dalam masa konsolidasi (netral). Seperti dalam contoh saya di atas. Pada poin no 1, market mulai membentuk tren, tapi karena kemiringan masih landai, maka ini menadakan bahwa market belum bisa dikatakan sedang trending. Anda bisa saja masuk posisi Buy pada poin no 1 ini, tapi tentu resiko harga berbalik menembus ke bawah MA lagi tentu juga besar. Saya sendiri biasanya juga terkadang masuk posisi pada saat keadaan seperti ini, tapi tentu dengan jumlah lot yang lebih sedikit (karena resiko lebih besar).

Sedangkan pada poin no 2, kita bisa melihat bahwa market sudah mulai trending, pada masa inilah kita bisa mulai menunggu untuk masuk posisi buy pada saat terjadi koreksi. Indicator paling sering yang saya gunakan untuk mencari titik koreksi ini biasanya adalah MA itu sendiri (berlaku sebagai support) atau Fibonachi. Pada contoh di atas, saya gunakan MA sebagai support untuk masuk posisi.

Nah selanjutnya yang perlu kita tahu adalah tren suatu saat pasti akan berakhir dan bisa berubah. Seperti contoh di atas, pada poin no 3, kita bisa melihat bahwa MA sudah mulai melandai (sudah di luar area jam 12 sampai jam 2). Pada periode ini, ada baiknya kita mulai take profit atau mengurangi posisi karena trend naik mulai melemah.

Pada poin no 4, kita melihat dengan jelas bahwa garis MA sudah mulai datar sehingga menandakan market sedang dalam masa konsolidasi dan tidak bergerak ke mana-mana. Pada masa ini, adalah sebuah ide buruk bila kita menggunakan MA sebagai sinyal untuk masuk posisi. Coba bayangkan bila kita masuk posisi buy saat price menembus MA ke atas dan masuk posisi sell saat price menembus MA ke bawah. Hasilnya tentu anda akan mendapatkan loss.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *